Monday, March 30, 2015

Diantara 2 Benua, Diapit 2 Samudera, Untuk Dunia

Tidak perlu diragukan lagi bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan kurang lebih 17.000 pulau, serta 95.181 km garis pantai dan sekitar 70% wilayahnya berupa laut, serta posisinya yang berada di antara 2 Samudera, membuktikan bahwa Indonesia merupakan negara maritim yang kaya. Hal-hal tersebut dapat mendukung Indonesia sebagai poros maritim dunia, ditambah dengan program Pembangunan Indonesia di tangan Presiden Jokowi yang menitik beratkan pada gelanggang maritim.

“Indonesia akan menjadi poros maritim dunia, kekuatan yang mengarungi dua samudra, sebagai bangsa bahari yang sejahtera dan berwibawa,” (Jokowi, KTT-Asean 2014, Myanmar)

Program Maritim oleh Presiden Jokowi ini bertujuan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia dibidang kelautan, yang pada sejarahnya Indonesia pernah sangat berdaulat di bidang kemaritiman berkat armada laut yang kuat dan perdagangan laut yang besar yang sangat berpengaruh untuk dunia yaitu pada zaman kerajaa Sriwijatya tahun 860 Masehi. Posisi Indonesia yang terletk diantara dua benua yaitu Asia dan Australia, serta diapit oleh dua Samudera yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, merupakan choke-point yang menentukan pergerakan kapal-kapal perang maupun niaga da dinamia potilik global menjadikannya sebagai bukti nyata Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis.

Namun sangat disayangkan, dengan potensi kekayaan Sumber Daya Alam yang muncul dengannya serta Simber Daya Manusia yang ada belum dimanfaatkan serta digali secara optimal. Kekayaan SDA dan jasa-jasa lingkungan kelautan tersebut dapat kita dayagunakan untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa melalu 11 sektor ekonomi kelautan yaitu perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, pertambangan dan energi (ESDM), pariwisata bahari, hutan mangrove, perhubungan laut, sumberdaya wilayah pulau-pulau kecil, industri dan jasa maritim, dan SDA non-konvensional, yang dapat mencapai nilai ekonomi sebesar 1,2 trilyun Dolar AS pertahun, serta dapat menjadi mata pencaharian untuk setidaknya 40 juta orang.

Melalui gagasan poros maritim ini, ditujukan untuk mengangkat kembali identitas bangsa Indonesia sebagai suatu kekuatan maritim diantara kedua Samudera yang tengah kritis, demi terwujudnya perdamaian dalam dinamika hubungan internasional. Kritis yang dimaksud dibuktikan dengan terjadi banyaknya kejahatan seperti illegal fishingyang dilakukan oleh ribuan kapal asing yang merugikan Indonesia hampir sebesar Rp 300 Trilyun per tahun. Selain itu, posisi geografis Indonesia yang dinilai sangat penting dengan 3 ALKI (belum dianggap sah karena kurangnya jalur Barat-Timur)–nya belum dilengkapi dengan pelabuhan-pelabuhan transit yang dapat menjadi nilai pemasukan untuk Indonesia, juga untuk melindungi kedaulatan Indonesia.


Untuk itu, demi mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, diberlakukan beberapa program, seperti program konstruksi PMD diatas, program ekonomi biru maupun program quick wins yang pada intinya menitik beratkan kepada kegiatan kelautan serta memperbaiki keamanan serta perlindungan oleh armada kelautan yang bersifat jangka panjang dan berkesinambungan. Yang juga tentunya memerlukan dukungan penuh dari masyarakat Indonesia sendiri dalam menyukseskan program tersebut hingga tercapailah visi Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Sunday, March 22, 2015

Surga Bawah Laut Nasional : Wakatobi

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki wilayah yang didominasi oleh wilayah pesisir.  Indonesia sendiri memiliki berbagai wilayah pesisir dengan karakteristik yang berbeda-beda. Terdapat ekosistem pesisir yang berbeda-beda yang dibedakan oleh masing-masing sifatnya. Ekosistem pesisir dibedakan menjadi estuaria, hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan ekosistem terumbu karang. Kekayaan terumbu karang diberbagai belahan bawah laut Indonesia tidak lagi perlu diragukan. Keindahan surga bawah laut Indonesia inilah yang bahkan menjadi salah satu daya tarik utama bagi aktifitas pariwisata sekaligus menjadikannya sebagai penghasilan negara yang cukup besar. Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem dengan tingkat keanekaragaman tinggi dimana di Wilayah Indonesia yang mempunyai sekitar 18% terumbu karang dunia, dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia (lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari 2500 jenis ikan, 590 jenis karang batu, 2500 jenis Moluska, dan 1500 jenis udang-udangan) merupakan ekosistem yang sangat kompleks. Selain berfungsi sebagai tempat tinggal banyak biota, letaknya yang berada diujung/bibir pantai juga bermanfaat sebagai pemecah gelombang alami. Keindahannya dengan warna-warni ikan dan karang membuat terumbu karang dapat menjadi obyek wisata air.

Berdasarkan jenisnya, terdapat dua jenis terumbu karang yaitu terumbu karang keras dan terumbu karang lunak. Terdapat beberapa tipe terumbu karang yaitu terumbu karang tepi  atau disebut dengan fringing reefs merupakan terumbu karang tepi atau karang penerus yang dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Kemudian terdapat terumbu karang penghalang atau barrier reefs yang terletak pada jarak yang relatif jauh dari pulau, pada umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus. Sedangkan terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau-pulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan, disebut dengan terumbu karang cincin (atolls). Dan yang terakhir adalah terumbu karang datar/gosong terumbu (patch reefs), yang  tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan.

Salah satu ekosistem terumbu karang yang terkenal di Indonesia yaitu kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.  Taman Laut Nasional Wakatobi merupakan habitat penting bagi empat spesies penyu laut serta ribuan terumbu karang dan ikan. Setidaknya terdapat 396 spesies karang sceleractanian, 31 spesies fungia, 31 spesies foraminifera, 34 spesies stomatopoda, dan lebih dari 942 spesies ikan. Kekayaan alam ini dihasilkan oleh sumber daya non hayati berupa air laut yang mengandung unsur-unsur kimia pembentuk terumbu karang (WWF).

(indonesia.travel)

Keindahan serta kekayaan ragam jenis terumbu karangnya secara meyakinkan mampu menyihir para wisatawan yang telah berkunjung dan menjadikannya sebagai perbindangan dikalangan dunia internasional. Namun, sangat disayangkan keindahan terumbu karang di kepulauan Wakatobi tidak didukung dengan pengelolaan yang baik. Kawasan Taman Nasional Wakatobi dihuni oleh lebih dari 100.000 orang yang tersebar di sekitar 100 desa di dalam empat gugusan pulau utama. Ini adalah salah satu fitur yang unik dari Wakatobi mengingat taman nasional secara umum tidak memungkinkan orang-orang untuk mendiami daerah untuk tujuan perlindungan dan pelestarian. Kondisi seperti ini merupakan tantangan bagi masyarakat Wakatobi untuk menjaga dan mengelola daerah sambil menjamin kelestarian keanekaragaman hayati, mengingat mayoritas masyarakat Wakatobi menggantungkan hidupnya pada sumberdaya laut.

Kurangnya kesadaran banyak pihak dalam menjaga serta melestraikan potensi terumbu karangnya, mengancam keberlangsungan hidup organisme karang yang cantik ini. Kerusakan terumbu karang yang terjadi diberbagai wilayah pesisir di Indonesia bukan merupakan hal yang baru. hal tersebut dapat terjadi akibat ulah tangan jahil manusia demi memenuhi hasrat serta kepentingan egois hidup mereka. Hal tersebut seharusnya dapat dicegah dengan meningkatkan kesadaran akan kecintaan terhadap lingkungan serta kekayaan alam yang telah Tuhan berikan. Bahwa kesadaran untuk mematahkan keegoisan demi kepentingan pribadi harusnya dapat diubah menjadi pola pikir yang menghasilkan keuntungkan bagi berbagai pihak tanpa mengurangi rasa nikmat syukur atas potensi yang telah diberikan Tuhan dengan merusak alam.


Untuk mewujudkan hal tersebut, maka dilakukan berbagai usaha yang dilakukan seperti melakukan sosialisasi serta penyadartahuan bagi masyarakt setempat untuk mencari pendapatan dengan mata pencarian yang berkelanjutan dengan memaksimalkan potensi pariwisata maupun perikanan yang aman bagi lingkungan. Kegiatan perikanan di Wakatobi dibatasi sesuai zonasi, mengutamakan pemanfaatan oleh masyarakat setempat. Diharapkan dengan kesadaran masyarakat yang tinggi untuk menjaga tanah dan air tempat mereka lahir dan hidup dapat memajukan kehidupan mereka sendiri, serta melestarikan kekayaan alam pemberian Tuhan Yang Maha Esa. Wakatobi adalah satu dari jutaaan bukti nyata akan Indonesia sebagai negara yang (seharusnya) kaya.

Sunday, March 15, 2015

Melirik Perairan Waingapu, Kab. Sumba Timur, NTT



Perairan Waingapu adalah perairan yang terbentuk oleh proses tektonik akibat konvergensi lempeng dan kerak. Untuk perairan ini, terbentuk akibat adanya proses tumbukan dimana tumbukan (collision) yaitu  lempeng yang saling bertumbukan menghasilkan batuan yang tercampur aduk (chaotic) yang terkerat kuat oleh struktur geologi patahan dan rekahan. Proses tumbukan dapat diamati hasilnya di kawasan antara Flores hingga Wetar sebagai sisa jalur volkanik dengan ciri pantai kaki volkanikdengan tutupan batu gamping terangkat, Sumba sebagai busur luarnya denganmorfologi pantai teras terumbu terangkat, dan jalur Sabu-Rote dan Timor sebagai jalur tumbukan dengan ciri pantai curam serta singkapan batu gamping terangkat dengan terobosan lumpur endapan tua.
Berdasarkan fisiografi kepulauannya, pantai dan perairan Waingapu memiliki jalur pulau busur luar. Jalur pulau non volkanik busur luar terbentuk hampir menerus di barat dari pulau Sumatra menghadap ke lepas Samudra Hindia. Di bagian timur busur Sunda, busur luar terbentuk kembali sebagai pulau Sumba dan Sabu. Pulau-pulau tersebut terbentuk dari terangkatnya sedimen laut oleh proses penunjaman dan tumbukan lepeng, dicirikan oleh lapisan batuan yang terlipat membentuk perbukitan dan terpotong patahan. Adakalanya batu gamping terumbu karang ikut terangkat keluar membentuk perbukitan di pantai bertebing curam. Teluk terbentuk oleh struktur geologi, umumnya padanya bermuara sungai membentuk endapan pasir disekelilingnya atau tutupan bakau. Dangkalan akibat terangkatnya batuan, ditumbuhi terumbu karang yang di atasnya seringkali kemudian tumbuh bakau. Sedimen lepas atau keras terkomkakan dari endapan karbonat di pantai terbentuk dari hasil rombakan terumbu karang. Pulau-pulau di barat Sumatra mengalami gerak pengangkatan mengiringi kegempaan yang adakalanya diikuti tsunami, namun ditengarai pula adanya penurunan. Di Sumba dan Sabu, pengangkatan lebih dominan dan menerus menghasilkan undak teras.
Pantai pada perariran Waingapu ini termasuk dalam pantai curam singkapan batuan, yaitu pada  umumnya ditemukan di pesisir yang menghadap laut lepas dan merupakan bagian jalur tunjaman/tumbukan, berupa pantai curam singkapan batuan volkanik, terobosan, malihan atau sedimen.  Namun, diluar itu, perairan ini dipastikan memiliki keindahan alam yang luar bias, baik pantai maupun dasar lautnya yang sangat mungkin menjadi tujuan utama para pemburu surga dunia.

INDONESI MEN(UJU)DUNIA



Indonesia sebagai negara kepulan terbesar di dunia tentunya memiliki impian sebagai poros maritim dunia. Untuk mewujudkannya merupakan langkah yang sungguh tidak mudah, terdapat banyak tantangan-tantangan yang harus dihadapi Indonesia demi memiliki kekuatan kemaritiman. Hingga saat ini, Indonesia dinilai masih bergantung pada daratannya. Hal tersebutlah yang harus diubah, mengingat visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Secara garis besar Indonesia memiliki geopolitik, geostrategis dan letak geografis yang sangat menunjang sebagai poros maritim dunia. Namun aspek-aspek itu saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan teknologi serta sumber daya manusia yang baik. Disitulah sebenarnya tantangan yang harus diatasi oleh Indonesia.

Teknologi merupakan aspek penting dalam memajukan berbagai hal dari suatu negara. Namun apalah arti teknologi tanpa pengguna yang baik. Sumber daya manusia yang mumpuni merupakan kunci dalam menyukseskan kemajuan suatu negara, khususnya dalam mewujudkan visi kemaritiman Indonesia untuk menjadi poros martitim dunia. Kesadaran masyarakat memegang peran utama dalam menyelesaikan permaslahan ini. Sayangnya kesadaran masyarakat Indonesia sangatlah kuranng dalam mengelola wilayah pesisir. Untuk itu, pemerintah Indoensia telah membuat suatu kebijakan mengenai pembangunan wilayah pesisir dan lautan.

Kebijakan ini dilakukan dengan pembangunan seluruh wilayah perairan Indonesia mencakup seluruh sumber daya alam yang terkandung didalamnya demi menyejahterakan seluruh bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi kebijakan pembangunan wilayah pesisir yang HOLISTIK dan TERPADU. Kebijakan ini dibuat dengan tujuan menjadikan pembangunan wilayah pesisir dan lautan Indonesia sebagai jiwa dan panduan dalam setiap pokok kebijakan. Pembangunan ini ditargetkan dengan memperbaiki industri dan usaha kelautan. 

Berdasarkan GBHN, ditetapkan beberapa pokok kebijakan, yaitu menegakkan kedaulatan dan yuridikasi nasional, meningkatkan pendayagunaan potensi laut dan dasar laut, mengembangkan industri kelautan, mengembangkan data dan informasi kelautan, serta mempertahankan daya dukung dan kelestarian fungsi lingkungan laut. Selain itu, dalam mewujudkannya maka perencanaan pembangunan wilayah pesisir dan lautan Indonesia dibagi dalam 3 tingkat, yaitu nasional, sektoral dan regional. Dimana dalam masing-masing tingkat tersebut diberlakukan strategi tertentu.

Dengan letak geografis Indonesia yang STRATEGIS, ditambah dengan kebijakan pemerintah menganai pembangunan wilayah pesisir dan kelautan Indonesia yang akan memupuk kesadaran masyarakat Indonesia dengan baik untuk memperbaiki tingkat sumber daya manusia, serta dilengkapi dengan teknologi yang memadai, niscaya Indonesia mampu mencapai visinya sebagai poros maritim dunia.

Sunday, March 1, 2015

MEMAGARI LAUT (WAWASAN) NUSANTARA

Berdasarkan TAP MPR tahun 1993 dan tahun 1998 tentang Garis Besar Haluan Negara, pengertian wawasan nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesai terhadap diri dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam pelaksanaan penyelenggaraan kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara untuk menggapai tujuan nasional.

Wawasan nusantara berfungsi sebagai pedoman, dorongan, motivasi, serta rambu-rambu dalam penentuan segala kebijaksanaan (kebijakan), tindakan, perbuatan dan keputusan bagi penyelenggara negara di tingkat pusat dan daerah maupun bagi seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Wawasan nusantara bertujuan mewujudukan nasionalisme yang tinggi di segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan individu, kelompok, suku bangsa, daerah, dan golongan. Ini bukanlah berarti menghilangkan kepentingan kepentingan individu, kelompok, suku bangsa, ataupun daerah. Kepentingan kepentingan tersebut akan selalu dihormati, diakui dan dipenuhi selama tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat banyak atau kepentingan nasional. Nasionalisme yang tinggi di berbagai bidang atau segi kehidupan demi terwujudnya tujuan nasional tersebut adalah pancaran dari makin bertambahnya rasa, semangat dan paham kebangsaan dalam jiwa bangsa Indonesia sebagai hasil pemahaman dan penghayatan Wawasan Nusantara.

Wawasan Nusantara diimplementasikan dalam berbagai aspek, namun satu yang paling penting yaitu aspek geografis, yang dilakukan dengan menetapkan batas-batas wilayah kekuasaan (batas wilayah pesisir) NKRI. Mengingat Indonesia sebagai negara yang letaknya dikelilingi oleh negara lainnya, maka dalam menentukan wilayah kekuasaan Indonesia diperlukan adanya perundingan serta kesepakatan dengan pihak-pihak terkait (negara tetangga) yang diatur dalam hukum tertentu, yaitu UNCLOS.
Diawali dengan “Uti Posidetis Juris” yaitu wilayah suatu negara mengikuti wilayah kekuasaan penjajahnya, Indonesia mendapatkan wilayah kekuasaan sesuai dengan wilayah kekuasaan penjajahnya yaitu Belanda. Seiring dengan kemerdekaan Indonesia, Indonesia hanya memiliki 3 mil kedaulatan (laut teritorial) dari masing-masing pulau. Kemudian muncullah gagasan-gagasan untuk melindungi wilayah kekuasaan Indonesia tersebut, hingga munculah ide untuk memagari laut nusantara. Ide tersebut dikenal dengan Deklarasi Djoeanda pada tahun 1957, yaitu dengan mengklaim laut diantara pulau-pulau sebagai wilayah kekuasaan Indonesia yang digambarkan dengan garis-garis yang melingkupi seluruh kepulauan Indonesia yang dikenal dengan garis pangkal kepulauan. Namun, sayang sekali ide yang cukup berani ini ditolak saat diajukan kepada dunia Internasional.

Perjuangan tidak berhenti disana, namun melalui perundingan-perundingan serta kerja keras dari perjuangan para pejuang-pejuang diplomasi Indonesia, akhirnya masyarakat dunia mengakui Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah kedaulatannya dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) pada tahun 1982 yang mana Indonesia dengan sah memegang kedaulatan penuh seluruh wilayah didalam garis pangkal kepulauan Indonesia termasuk lautan diantara pulau-pulau atau laut nusantara. Indonesia kini berhasil menambah luas wilayah dan yuridikasi laut yang memiliki potensii yang sangatlah besar yang kemudian menjadi tanggung jawab seluruh Bangsa Indonesia dalam mengelola dan menjaganya.

Dalam pengelolaannya, maka dibutuhkan adanya Pengelolaan Wilayah Pesisir. Sesuai kesepakatan yang lahir dalam UNCLOS 1982, ditetapkan beberapa aturan mengenai Kedaulatan dan Hak Berdaulat suatu negara atas lautnya. Kedaulatan (sovereignity) atau kewenangan penuh atas wilayah yang meliputi wilayah daratan, perairan kepulauan dan laut teritorial, yang mana laun teritorial adalah kawasan selebar 12 mil laut dari garis pangkal. Sedangkan diluar laut teritorial tersebut, dikenal dengan hak berdaulay (sovereign rights) yang mana tidak berlaku kekuasaan penuh tetapi hak untuk mengelola dan memanfaatkan, seperti zona tambahan (hingga 24 mil laut), ZEE (hingga 200 mil laut), landas kontinen (dasar laut yang bisa lebih dari 200 mil laut).  Berikut merupakan zona maritim suatu negara (Batas maritim internasional).



Dengan penentuan Batas Maritim Internasional tersebut, dibutuhkan Garis Pangkal. Garis Pangkal ini ditentukan sesuai dengan karakterisitik suatu negara. Indonesia sebagai negara kepulauan menggunakan garis pangkal kepulauan , dimana garis pangkal ini menyambungkan titik-titik terluar kepulauan Indonesia. Tanpa melupakan Indonesia yang berbatasan dengan negara lain, maka diperlukan adanya kesepakatan-kesepakatan khusus antara pihak-pihak terkait yang dilakukan dengan perundingan-perundingan yang diakui oleh dunia Internasional. Indonesia hingga saat ini belum mencapai kesepakatan penuh dengan negara tetangganya. Oleh karena itu memagari laut nusantara dan menentukan serta menyepakati batas maritim sangat perlu dilakukan dalam rangka menjaga perdamaian dunia, serta hidup bertetangga dan mencegah terjadinya atau menyelesaikan sengketa-sengketa batas maritim yang sangat mungkin terjadi. Maka dari itu, pengelolaan wilayah pesisir dengan memagari laut nusantara memiliki peran penting dalam wawasan nusantara.